Menjinakkan Harga

Menjinakkan Harga

Sayuran seperti umumnya komoditas agribisnis yang dikonsumsi segar selalu mengalami fluktuasi harga cukup tajam. Kita lihat saja cabai rawit merah yang bulan lalu bikin ibu-ibu rumah tangga beralih ke cabai lain atau paling tidak me ngurangi pembelian lantaran harganya sangat “pedas”. Pantauan di 44 pasar seantero Jakarta, harga eceran paling murah Rp73 ribu/kg dan paling mahal Rp135 ribu. Kalau dipukul rata sepanjang Januari 2017 mencapai Rp115 ribu/kg.

Harga di tingkat petani memang mengalami kenaikan sampai Rp60 ribuan/kg. Namun tidak banyak petani yang menikmatinya karena banyak terjadi kegagalan produksi. Tidak hanya faktor penyakit yang banyak berjangkit, curah hujan berlebih ikut menggugurkan bunga cabai sehingga hasil panennya jauh dari harapan. Benar kiranya prediksi Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia, produksi cabai yang selamat tinggal 15%-20%.

Untuk menekan harga jangan sampai terlalu berdampak terhadap inflasi, tahun-tahun sebelumnya, Kementerian Pertanian menggandeng Bulog untuk operasi pasar. Mentan membeli cabai dari petani daerah lain yang berhasil panen lalu dipasok ke seputar Jakarta. Harga pun secara berangsur normal. Tahun ini pun Bulog melakukan operasi pasar, tetapi hasilnya masih kurang signifikan. Terbukti dari pantauan sampai akhir bulan lalu, harga masih saja bertengger tinggi di atas Rp100 ribu/kg.

Di sisi lain, harga tomat buah anjlok. Pantauan di pasar-pasar yang sama, harga paling rendah Rp8.400/kg dan yang tertinggi Rp11.500/kg. Ratarata selama Januari 2017 harganya Rp9.900/kg. Di level petani sangat menyedihkan. Salah seorang petani cabai dan tomat di Sukaraja, Sukabumi, mi salnya, menyebut harga Rp700/kg pada 31 Januari lalu. Ia mengeluhkan, ketika harga tinggi pemerintah cepat-cepat operasi pasar supaya harga turun. Ketika sebaliknya terjadi, harga anjlok tidak ada yang membantu petani berteriak.

Operasi pasar tampaknya tidak selalu bisa meng atasi gejolak. Karena itu perlu upaya lebih agar solusinya lebih permanen, bukan sekadar pemadam kebakaran. Sebenarnya Ditjen Hortikultura, Kementan sudah mengupayakan melakukan pemerataan sentra produksi cabai di beberapa daerah baru dan mendorong petani menanam pada musim penghujan dengan bantuan tertentu untuk mengisi bulan-bulan kosong produksi. Namun kiranya itu belum cukup.

Dalam diskusi yang diselenggarakan Kadin 10 Maret 2016 di Jakarta, sebenarnya sudah cukup lengkap masukan dari para pemangku kepentingan percabai an yang hadir saat itu. Di antaranya, pemerintah sebaiknya memfasilitasi pembentukan sentra produksi, sentra distribusi, dan bekerja sama dengan para champion(avalis) atau inti membangun sistem informasi terpadu. Sistem informasi ini dikelola secara profesional sehingga informasinya akurat dan dapat diandalkan semua pelaku usaha yang terlibat di dalamnya.

Para avalis diperlukan untuk menjamin distribusi hasil panen petani ke pasar induk, pasar modern, dan juga pasar antarpulau. Dengan demikian disparitas harga dari petani ke konsumen tidak njomplang lagi karena rantai suplainya lebih pendek, dari petani langsung ke avalis, langsung ke pusat distribusi.

Pada cabai, model bisnis seperti itu sudah bisa dilakukan. Beda dengan tomat, masih perlu dibangun dari awal. Perhatian pemerintah terhadap komoditas ini tidak sebesar cabai karena tidak seseksi cabai atau bawang merah. Ada baiknya pemerintah mendukung pemuliaan tomat untuk industri sehingga hasil panen petani bisa diolah pabrik-pabrik saus tomat yang selama ini impor pasta tomat. Jadi ada petani yang menanam tomat sayur, tomat buah, dan tomat industri.

Dengan pemetaan permintaan dan suplai yang akurat didukung sistem informasi seperti pada cabai tadi, petani tak perlu latah dalam berproduksi. Petani diarahkan untuk memproduksi tomat sesuai kebutuhan pasar. Jadi, kalau pun masih terjadi fluktuasi harga, tidak akan tajam lagi. Jangan sampai terjadi lagi petani membiarkan tomatnya membusuk di lahan karena harga jualnya masih lebih rendah ketimbang upah panennya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *