Solusi Trouw Mencegah Resistensi Antibiotik

Solusi Trouw Mencegah Resistensi Antibiotik

Untuk memenuhi kebutuhan pangan sumber protein hewani, seperti telur, ayam, dan daging bagi populasi dunia yang kian mening kat, menurut Dr. James McGrain, produksi ayam mulai dilakukan secara intensif di Amerika pada 1920. “Intensifikasi membuat biaya produksi efisien. Pembibitan pun didesain untuk mem produksi daging bersiklus hidup pendek,” pa par Team Leader FAO Center for Trans boundary Animal Disease (ECTAD) Indonesia itu pada seminar “An Integrated Approach for Feed to Food Sa fety: Animal Production wi tho ut Antibiotics” di Jakarta (1/3). Sistem ini sangat meng andalkan kesehatan ternak yang prima sehingga antibiotik mulai dimanfaatkan untuk memacu pertumbuhan (growth promoters) dan pengobatan ternak.

Dampak Global AMR

McGrain menjelaskan, antibio tik mem bunuh bakteri yang rentan tetapi menyisakan yang kuat sehingga strain itu bertahan hidup dan berkembang biak dengan ketahanan (resistensi) terhadap antibiotik tertentu. Sifat ini diwariskan ke keturunannya lalu menciptakan populasi resisten, menyebar kannya, dan menjadi sumber gen ke tahanan bagi strain lain. Resistensi diakumulasikan dari waktu ke waktu dan membuat bakteri lebih sulit dibunuh. Resistensi antimikroba (antimicrobial resistance, AMR), katanya, adalah ke mampuan mikroorganisme untuk ber tahan dan menggandakan diri meng ha dapi agen antimikroba yang meng hambat atau membunuh sebagian jenis organisme ini. Menurut hasil penelitian, pada 2014 ada 700 ribu orang mati aki bat AMR. Jika tidak dikendalikan, ke matian menjadi 10 juta orang pada 2050 dan akumulasi kehilangan hasil men capai US$100 miliar di seluruh dunia. John Ratcliff menjelaskan, bakteri yang terpapar antibiotik terlalu lama dalam dosis rendah akan meningkatkan resistensi terhadap antibiotik dan mengurangi efektivitas obat. Bakteri juga bisa mentransfer sifat resisten. “Bakteri yang resisten terhadap obat hewan bisa menjadi resisten terhadap jenis obat-obatan yang sama untuk manusia,” kata Konsultan Food and Agriculture Consultancy Services Thailand itu. Penggunaan antibiotik di peternakan akhirnya menjadi isu global. Uni Eropa lantas melarang penggunaan antibiotic growth promoters (AGP) sejak 2006.

Solusi Hadapi AGP Free

Menurut Nabil Chinniah, General Manager PT Trouw Nutrition Indonesia, Trouw berupaya mengurangi penggunaan antibiotik melalui produksi pakan ternak yang aman sebagai salah satu bentuk solusi jangka panjang. “Kita investasi cukup besar di bidang pe nelitan karena ingin hasilkan makanan yang sama berkualitas untuk generasi berikutnya,” ujar dia. Marteen van der Heidjen, Global Feed Additive Manage ment Trouw Nutrition Nether lands menambahkan, Trouw menawarkan per lindungan hewan ternak ber kelanjutan dengan imbuhan pakan Selko berupa Presan®FY dan Selko® -pH melalui mekanisme pro teksi saluran cerna. Presan® -FY me ngandung senyawa fenolik dan asam organik. “Presan mengurangi peradangan, mening katkan keanekaragaman mikrobiota, mengurangi stres oksidatif, menekan bakteri me rugikan, memperbaiki dinding sel usus dan memu lihkan sel saluran cerna,” ucapnya. Sementara Selko® -pH adalah cam puran asam organik yang efektif me nurunkan pH air minum menjadi sekitar 3,8 sehingga bisa memperbaiki kecer naan pakan dan memper tahan kan ke sta bilan mikrobiota usus. Ternak men jadi sehat dan performanya lebih optimal. Hasil penelitian di IPB, Bogor, membuktikan, penggunaan Presan® -FY dan Selko® -pH pada 500 ekor broiler memperbaiki nilai konversi pakan (FCR) menjadi 1,84, tingkat kematian 9%, dan indeks performa mencapai 139%. Sedangkan, pemberian AGP membuat FCR sebesar 2,19, kematian 19%, dan indeks performa 100%.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *