Categories
Uncategorized

Upaya Memperkuat Produksi dan Komunitas Kakao

Indonesia merupakan negara penghasil kakao terbesar ketiga dengan kontribusi ekspor mencapai 15% dari total ekspor kakao global. Namun demikian, pertanian kakao Indonesia menghadapi beberapa kendala. Di an taranya penurunan produktivitas, ren dahnya regenerasi petani, serta masih minimnya penghidupan petani dari hasil produksi. Untuk itu perlu kolaborasi tepat dengan berfokus pada pemberdayaan dan kesejahteraan komunitas petani kakao Nasional demi memastikan keberlanjutan produksi kakao di masa depan. Perlu Perbaikan Dibudidaya sejak 1980-an, sebagian besar tanaman kakao sudah berusia tua dan tingkat produksinya menjadi rendah.

Demikian pernyataan Bambang, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) dalam diskusi komoditas kakao bersama Mondelez Indonesia di Jakarta. Produksi kakao nasional sebanyak 340 ribu ton/tahun belum mencukupi kebutuhan industri. Industri membutuhkan kakao sekitar 800 ribu ton/tahun. Sedangkan rata-rata tingkat produktivitas hanya 300 kg/ha, masih jauh dari potensi yang mencapai 2,7 ton/ha. Ia menghimbau semua pihak terkait agar hadir memberi perhatian guna perbaikan kakao di Indonesia. Jangan sampai kakao tergantikan komoditas-komoditas lain yang menurut petani lebih menguntungkan. “Kakao harus dipertahankan. Kalau perbaikan tidak dilakukan, selamat jalan kakao Indonesia,” ketus Bambang. Sentra kakao tersebar di 28 kabupaten dan 16 provinsi di Indonesia.

Lebih dari 95% perkebunan kakao adalah perkebunan rakyat yang melibatkan 1,7 juta petani dengan kepemilikan lahan rata-rata 1 ha/petani yang sebagian sudah berusia tua. Kakao merupakan salah satu dari sebelas komoditas vital di Indonesia selain sawit, karet, kelapa, lada, dan pala. Bambang mengungkapkan, upaya perbaikan kakao dilakukan dalam berbagai hal. Di sisi teknis mulai dari infrastruktur perbenihan dan sumber-sumber benih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *